Opinions

1 Muharram: Jangan Ganti Kalender Kalau Mentalitas Masih Sama

Hijrah
Samsir Salam, S.Ag., M.H., Ketua Bawaslu Pangkep sekaligus mantan Ketua Umum HMI Cabang Gowa Raya, Selesa (16/06/2026). Foto Ist

Oleh: Samsir Salam, S.Ag.,MH (Ketua Bawaslu Pangkep/Mantan Ketum HMI Cab. Gowa Raya)

INSAN.NEWS || Pangkep—Setiap 1 Muharram, linimasa dipenuhi ucapan “Selamat Tahun Baru Islam.” Masjid ramai. Spanduk terbentang. Ceramah digelar. Doa dipanjatkan. Tetapi setelah itu, kita kembali menjadi pribadi yang sama. Yang berubah hanya angka di kalender, bukan karakter.

Mungkin inilah ironi terbesar umat hari ini: kita begitu antusias memperingati hijrah, tetapi enggan berhijrah.

Hijrah Nabi Muhammad saw. bukanlah seremoni tahunan. Hijrah adalah revolusi kesadaran.

Rasulullah tidak sekadar memindahkan umat dari Makkah ke Madinah, tetapi memindahkan manusia dari penyembahan kepentingan menuju penyembahan kepada Allah; dari budaya kekuasaan menuju budaya amanah; dari kebanggaan atas keturunan menuju kemuliaan karena ketakwaan.

Refleksi Tahun Baru Islam 1448 H

Pertanyaannya, sudah sejauh mana hijrah itu hidup dalam diri kita?

Kita masih marah ketika kepentingan pribadi terusik, tetapi diam ketika kepentingan publik dirampas.

Kita lantang mengutuk kezaliman yang dilakukan orang lain, tetapi pandai mencari dalih ketika kezaliman itu menguntungkan kelompok sendiri.

Kita ingin pemimpin yang bersih, tetapi sering kali masih memaklumi cara-cara yang kotor selama hasilnya menguntungkan.

Inilah penyakit yang paling sulit disembuhkan: kemunafikan moral yang dibungkus kesalehan simbolik.

Tahun Baru 1448 Hijriah: Semangat Baru Menata Peradaban

Kita sibuk mengganti foto profil bertema Muharram, tetapi lupa mengganti cara berpikir. Kita berlomba menghadiri tabligh akbar, tetapi enggan melakukan muhasabah yang sebenarnya. Padahal Allah telah mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini sesungguhnya adalah kritik terhadap kebiasaan menyalahkan keadaan. Al-Qur’an tidak memulai perubahan dari sistem, melainkan dari manusia. Sebab sistem yang baik pun akan rusak jika dijalankan oleh mentalitas yang buruk.

Barangkali karena itulah negeri ini tidak pernah kekurangan aturan, tetapi sering kekurangan keteladanan.

Tidak kekurangan slogan integritas, tetapi kekurangan orang yang rela kehilangan jabatan demi mempertahankan integritasnya.

Jejak Rezeki di Jalan Langit: Pembacaan Filosofis atas QS. Al-Ankabut: 60

Tidak kekurangan orang beragama, tetapi masih kekurangan keberanian untuk berlaku adil ketika keadilan itu merugikan dirinya sendiri.

Muharram seharusnya menjadi pengingat bahwa reformasi tidak dimulai dari pergantian pemimpin, melainkan dari pergantian nurani.

Sebab sejarah membuktikan, peradaban besar tidak dibangun oleh orang-orang yang pandai berpidato tentang perubahan, tetapi oleh mereka yang terlebih dahulu berubah.

Maka, jangan jadikan Tahun Baru Islam sekadar rutinitas yang datang lalu pergi. Jangan biarkan hijrah berhenti menjadi tema ceramah tanpa pernah menjadi budaya hidup.

Karena sesungguhnya, umat tidak sedang kekurangan orang yang pandai berbicara tentang Islam. Umat sedang merindukan orang yang berani memperlihatkan Islam melalui integritasnya.

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H. Jangan hanya berganti tahun. Beranilah berganti cara berpikir, berganti cara memimpin, dan berganti cara mengabdi.

Sebab peradaban tidak pernah lahir dari perubahan kalender, melainkan dari perubahan karakter.

Pangkajene Kepulauan—16 Juni 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement