Hijrahkan Hati, Perbaiki Diri, Tingkatkan Iman, Wujudkan Peradaban Islami
Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.
(Dosen Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Kendari dan Ketua Komisi KUB MUI Sulawesi Tenggara)
INSAN.NEWS || Kendari—Tahun Baru Hijriyah sesungguhnya bukanlah peristiwa pergantian kalender semata. Ia adalah panggilan langit agar manusia kembali membaca dirinya, meninjau ulang arah hidupnya, dan mempertanyakan kembali tujuan keberadaannya di muka bumi.
Dalam perspektif filosofis dan sufistik, hijrah bukan sekadar perpindahan ruang, tetapi perpindahan kesadaran; bukan perubahan lokasi, melainkan transformasi orientasi.
Banyak manusia berpindah tempat, tetapi tidak berpindah hati. Banyak yang berubah penampilan, tetapi tidak berubah kesadaran. Karena itu, hijrah yang paling mendasar bukanlah hijrah kaki, melainkan hijrah hati.
Allah Swt. berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Latin:
Inna Allāha lā yughayyiru mā biqaumin ḥattā yughayyirū mā bi-anfusihim
Terjemah:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini mengandung hukum peradaban yang sangat fundamental: perubahan sosial selalu berawal dari perubahan batin. Tidak ada revolusi peradaban tanpa revolusi kesadaran.
Hijrahkan Hati: Dari Ego Menuju Allah
Dalam tasawuf, hati (_qalb_) bukan sekadar organ spiritual, melainkan pusat eksistensi manusia. Hati adalah kompas yang menentukan ke mana manusia akan menuju.
Jika hati menghadap dunia, maka seluruh hidup akan berputar di sekitar dunia. Namun jika hati menghadap Allah, maka dunia akan menjadi jalan menuju-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
Latin:
Wal-muhājiru man hajara mā nahallāhu ‘anhu
Terjemah: “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari)
Imam Al-Ghazali dalam _Ihya’ Ulum al-Din_ menjelaskan bahwa hijrah tertinggi adalah perpindahan hati dari keterikatan kepada makhluk menuju keterikatan kepada Sang Khalik. Menurutnya, akar segala kegelisahan manusia adalah ketika hati mencari ketenangan pada sesuatu yang fana.
Senada dengan itu,
Jalaluddin Rumi berkata:
“Mengapa engkau mencari mutiara di pantai dunia, padahal lautan Tuhan berada di dalam dirimu?”
Di era digital, manusia mengalami paradoks eksistensial. Semakin terhubung secara virtual, semakin terasing secara spiritual. Media sosial sering menjadikan manusia sibuk membangun citra, tetapi lupa membangun jiwa. Akibatnya, kita mengenal banyak orang, tetapi kehilangan diri sendiri.
Karena itu, hijrah hati pada zaman ini berarti membebaskan diri dari penjajahan ego, candu validasi sosial, dan ilusi popularitas digital.
Perbaiki Diri: Jalan Tazkiyah Menuju Kesempurnaan Insani
Allah Swt. berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Latin:
Qad aflaha man zakkāhā. Wa qad khāba man dassāhā
Terjemah:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)
Menurut Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah, manusia tidak dapat memperbaiki dunia sebelum memperbaiki jiwanya, sebab sumber seluruh tindakan manusia berasal dari kondisi hati.
Dalam filsafat Islam, manusia adalah makhluk yang selalu berada dalam proses menjadi (_being and becoming_). Ia tidak pernah selesai. Karena itu, memperbaiki diri bukan proyek sesaat, tetapi perjalanan sepanjang hayat.
Buya Hamka dalam _Tasawuf Modern_ mengingatkan bahwa kemajuan material tidak akan berarti tanpa kemajuan moral. Teknologi dapat mempercepat langkah manusia, tetapi hanya akhlak yang dapat menentukan arah langkah tersebut.
Hari ini kita menyaksikan kemajuan kecerdasan buatan, big data, dan algoritma digital. Namun pada saat yang sama, kita juga menyaksikan meningkatnya kecemasan, depresi, kesepian, dan krisis makna. Ini menunjukkan bahwa perbaikan teknologi tidak otomatis melahirkan perbaikan manusia.
Tingkatkan Iman: Dari Pengetahuan Menuju Kesadaran
Allah Swt. berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ
Latin:
Innamal mu’minūnalladzīna idzā dzukirallāhu wajilat qulūbuhum
Terjemah:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka.” (QS. Al-Anfal: 2)
Iman bukan sekadar mengetahui Tuhan, tetapi mengalami kehadiran-Nya dalam kehidupan. Banyak orang memiliki informasi tentang agama, tetapi sedikit yang memiliki transformasi spiritual.
Imam Al-Junaid Al-Baghdadi mendefinisikan tasawuf sebagai:
“Engkau bersama Allah tanpa sesuatu pun selain-Nya.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa iman yang sejati melahirkan kesadaran ketuhanan (_God consciousness_) yang hadir dalam setiap aktivitas kehidupan.
M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa iman harus melahirkan amal saleh dan tanggung jawab sosial. Sementara Nasaruddin Umar menekankan bahwa spiritualitas Islam yang autentik tidak menjauhkan manusia dari dunia, tetapi justru menjadikannya lebih bertanggung jawab terhadap kehidupan.
Dalam dunia digital, meningkatkan iman berarti menjadikan teknologi sebagai sarana ibadah, bukan sarana kelalaian; menjadikan media sosial sebagai ruang dakwah dan edukasi, bukan arena kebencian dan fitnah.
Wujudkan Peradaban Islami: Dari Kesalehan Individual Menuju Kesalehan Sosial
Peradaban Islam tidak lahir dari kekuatan politik semata. Ia lahir dari perpaduan antara wahyu, ilmu, akhlak, dan keadilan.
Allah Swt. berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
Latin:
Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnās
Terjemah:
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 110)
Menurut Ibnu Khaldun, kejayaan suatu peradaban bergantung pada kualitas moral masyarakatnya. Ketika moralitas melemah, maka keruntuhan hanya tinggal menunggu waktu.
Fazlur Rahman menegaskan bahwa tujuan utama Islam adalah membangun masyarakat yang adil, bermartabat, dan berorientasi pada kemaslahatan manusia.
Sementara M. Amin Abdullah mengingatkan bahwa peradaban Islam abad ke-21 harus dibangun melalui integrasi ilmu agama, ilmu sosial, sains, teknologi, dan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Maka peradaban Islami pada era digital bukan hanya tentang banyaknya masjid atau simbol-simbol keagamaan, tetapi tentang hadirnya kejujuran dalam ekonomi, keadilan dalam politik, etika dalam teknologi, dan kasih sayang dalam hubungan kemanusiaan.
Penutup: Hijrah Sebagai Proyek Peradaban
Muharram mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil dalam hati manusia. Madinah tidak lahir dari pembangunan fisik semata, tetapi dari jiwa-jiwa yang telah berhijrah.
Ketika hati berhijrah kepada Allah, diri akan membaik.
Ketika diri membaik, iman akan menguat. Ketika iman menguat, lahirlah masyarakat yang berakhlak. Dan ketika masyarakat berakhlak, peradaban Islami akan tumbuh dengan sendirinya.
Karena itu, pesan Hijriyah yang paling relevan bagi zaman modern adalah:
- Hijrahkan hati dari ego menuju Allah
- Perbaiki diri dari hari ke hari
- Tingkatkan iman dari informasi menuju transformasi
- Dan wujudkan peradaban Islami dari kesalehan pribadi menuju kemaslahatan semesta
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak diubah oleh manusia yang hanya pandai berbicara tentang perubahan, tetapi oleh mereka yang terlebih dahulu berani mengubah dirinya sendiri.
Wallahu A’lam bi al-Shawab
Kendari—16 Juni 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


