Opinions

Tahun Baru 1448 Hijriah: Semangat Baru Menata Peradaban

Hijriah
Baharuddin Hafid - Dosen tetap Universitaz Megatezky Makassar Dan Instruktur NDPers Nasional. Selasa (16/06/2026). Foto Ist

Oleh: Baharuddin Hafid (Akademisi Universitas Megarezky Makassar)

INSAN.NEWS || Makassar—Pergantian tahun baru Islam 1448 Hijriah bukan sekadar perpindahan angka dalam kalender keagamaan. Ia merupakan momentum reflektif yang memiliki dimensi sejarah, sosial, dan kultural yang sangat mendalam bagi umat Islam.

Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukan hanya perjalanan fisik, melainkan transformasi besar dalam membangun peradaban manusia yang berkeadaban, berkeadilan, dan bermartabat.

Dalam perspektif sosio-historis, peristiwa hijrah merupakan tonggak lahirnya masyarakat baru yang dibangun di atas nilai persaudaraan, toleransi, dan tata sosial yang berkeadilan.

Madinah menjadi simbol keberhasilan Islam mengelola keberagaman suku, agama, dan kultur dalam satu ikatan peradaban.

1 Muharram: Jangan Ganti Kalender Kalau Mentalitas Masih Sama

Piagam Madinah yang lahir pada masa itu bahkan sering disebut sebagai salah satu konstitusi sosial-politik paling awal dalam sejarah dunia yang mengatur relasi antar komunitas secara damai dan berkeadaban.

Karena itu, Tahun Baru Hijriah semestinya dimaknai bukan hanya dengan seremoni keagamaan yang bersifat simbolik, tetapi juga sebagai momentum evaluasi terhadap kondisi sosial umat hari ini.

Di tengah krisis moral, polarisasi sosial, hegemoni budaya konsumtif, serta melemahnya solidaritas kemanusiaan, semangat hijrah mengajarkan perlunya perubahan orientasi hidup: dari egoisme menuju kepedulian sosial, dari perpecahan menuju persatuan, dan dari kemunduran menuju kebangkitan peradaban.

Secara kultural, masyarakat Muslim Indonesia memiliki tradisi yang kaya dalam menyambut Tahun Baru Islam. Tradisi pawai obor, doa bersama, pengajian, hingga berbagai ritual budaya lokal menunjukkan bahwa Islam di Nusantara tumbuh melalui pendekatan budaya yang humanis dan inklusif.

Kearifan lokal tersebut menjadi bukti bahwa agama dan budaya bukan dua hal yang saling menegasikan, melainkan dapat berjalan harmonis dalam membentuk identitas sosial masyarakat.

Refleksi Tahun Baru Islam 1448 H

Namun tantangan peradaban hari ini jauh lebih kompleks dibanding masa lalu. Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar terhadap pola pikir, relasi sosial, bahkan sistem nilai generasi muda.

Arus informasi yang begitu cepat sering kali melahirkan disorientasi budaya dan krisis keteladanan. Dalam konteks inilah semangat hijrah harus diterjemahkan sebagai gerakan membangun literasi, memperkuat etika publik, dan menghadirkan agama sebagai energi transformasi sosial, bukan sekadar identitas simbolik.

Menata peradaban pada hakikatnya bukan hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi membangun manusia yang berkarakter.

Peradaban besar lahir dari masyarakat yang menjunjung ilmu pengetahuan, keadilan sosial, serta penghormatan terhadap nilai kemanusiaan.

Sejarah Islam mencatat bagaimana kejayaan peradaban lahir ketika tradisi intelektual tumbuh subur dan moralitas menjadi fondasi kehidupan sosial.

Jejak Rezeki di Jalan Langit: Pembacaan Filosofis atas QS. Al-Ankabut: 60

Tahun Baru 1448 Hijriah hendaknya menjadi titik kebangkitan kesadaran kolektif umat untuk kembali menempatkan nilai-nilai Islam sebagai spirit kemajuan.

Hijrah hari ini bukan lagi perpindahan geografis, tetapi perpindahan cara berpikir: dari keterbelakangan menuju kemajuan, dari konflik menuju dialog, dan dari sikap eksklusif menuju keterbukaan yang berkeadaban.

Pada akhirnya, semangat hijrah adalah semangat perubahan. Dan perubahan terbesar dalam sejarah selalu dimulai dari kesadaran moral masyarakatnya.

Jika umat Islam mampu menjadikan momentum 1448 Hijriah sebagai gerakan sosial dan kultural untuk memperbaiki kualitas manusia, maka harapan menata kembali peradaban yang berkeadilan, damai, dan bermartabat bukanlah sesuatu yang mustahil.

Allahu A’lamu Bishshawab

Makassar—16 Juni 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement