Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.
(Dosen Pemikiran Islam UIN Kendari dan Maheswara Utama PIP BPIP RI)
INSAN.NEWS || Kendari—Ada manusia yang pandai berkata-kata, tetapi tidak pandai menjadi apa yang dikatakannya. Lisannya penuh nasihat, tetapi hidupnya miskin keteladanan. Ia berbicara tentang kejujuran, tetapi menyimpan kepentingan.
Ia berbicara tentang ketulusan, tetapi diam-diam mengejar pujian. Bahkan, ia membawa nama Allah untuk meyakinkan manusia bahwa dirinya benar.
Al-Qur’an mengingatkan kita tentang paradoks semacam ini melalui QS. al-Baqarah [2]: 204:
*وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّعْجِبُكَ قَوْلُهٗ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّٰهَ عَلٰى مَا فِيْ قَلْبِهٖۙ وَهُوَ اَلَدُّ الْخِصَامِ*
_Wa minan-nāsi may yu‘jibuka qauluhū fil-ḥayātid-dunyā wa yusy-hidullāha ‘alā mā fī qalbihī, wa huwa aladdul-khiṣām_.
“Di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada dalam hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.”
Ayat ini mengajak kita memasuki wilayah yang jauh lebih dalam daripada sekadar persoalan benar atau salah dalam berbicara. Ia mengajak manusia bertanya: *siapakah aku ketika tidak seorang pun melihatku?*
Sebab, di hadapan manusia kita dapat mengatur kata. Kita dapat mengelola ekspresi. Kita dapat membangun citra. Tetapi di hadapan Allah, manusia berhadapan dengan hakikat dirinya sendiri.
Ketika kata lebih indah daripada kenyataan
Kata *يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ* (_yu‘jibuka qauluhū_) menggambarkan seseorang yang ucapannya memikat dan mengagumkan. Persoalannya bukan karena kata-kata itu indah.
Keindahan bahasa tentu bukan dosa. Yang menjadi masalah adalah ketika keindahan kata tidak lagi menjadi cermin kebenaran batin.
M. Quraish Shihab dalam penjelasan QS. al-Baqarah ayat 204 menekankan adanya ketidaksesuaian antara ucapan dan isi hati.
Orang semacam itu dapat membungkus kepentingan dunia dengan kata-kata yang memikat, bahkan menggunakan nama Allah untuk menguatkan citra ketulusannya.
Dengan demikian, Al-Qur’an tidak mengajarkan kita untuk menilai seseorang hanya berdasarkan retorikanya.
Kata adalah pintu, tetapi perbuatan adalah bukti
Seseorang boleh berbicara tentang keadilan, tetapi lihat bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak memiliki kekuasaan. Ia boleh berbicara tentang amanah, tetapi lihat bagaimana ia menggunakan jabatan ketika tidak diawasi.
Ia boleh berbicara tentang agama, tetapi lihat apakah agama itu menjadikannya lebih jujur, rendah hati, adil, dan manusiawi.
Karena itu, ukuran kesalehan bukan sekadar apa yang keluar dari mulut, tetapi apa yang tumbuh dari hati dan menjelma dalam tindakan.
Allah tidak tertipu oleh citra
Yang menarik dari ayat ini adalah frasa:
*وَيُشْهِدُ اللّٰهَ عَلٰى مَا فِيْ قَلْبِهٖ*
“Ia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada dalam hatinya.”
Di sini terdapat ironi spiritual yang sangat dalam. Manusia menggunakan nama Allah untuk meyakinkan manusia, padahal Allah justru mengetahui sesuatu yang hendak disembunyikan.
Manusia dapat berkata, “Demi Allah, saya tulus.”
Tetapi Allah tidak hanya mendengar sumpah. Allah mengetahui *isi hati*.
Manusia dapat membangun reputasi sebagai orang saleh. Tetapi Allah tidak menilai reputasi; Dia mengetahui niat.
Manusia dapat membangun personal branding. Allah melihat integritas.
Manusia dapat mengumpulkan ribuan pengikut. Allah mengetahui apakah yang dikejar adalah ridha-Nya atau tepuk tangan manusia.
Di sinilah QS. al-Baqarah 204 menjadi sangat relevan dengan kehidupan kontemporer.
Kita hidup dalam zaman ketika citra dapat diproduksi dengan sangat cepat. Foto dapat diperindah, video dapat diedit, narasi dapat dirancang, dan kecerdasan buatan bahkan dapat membantu manusia menghasilkan kalimat yang sangat meyakinkan.
Tetapi teknologi tidak pernah dapat mengubah kepalsuan menjadi ketulusan.
AI dapat membantu manusia membuat kalimat yang indah, tetapi tidak dapat membuat hati menjadi jujur.
Algoritma dapat mengukur engagement, tetapi tidak dapat mengukur keikhlasan.
Manusia dapat mengelabui persepsi publik, tetapi tidak dapat mengelabui Allah.
Hamka: agama harus menjadi akhlak kehidupan
Dalam corak pemikiran Buya Hamka, agama tidak berhenti pada pengetahuan dan simbol. _Tafsir al-Azhar_ sendiri memperlihatkan karakter penafsiran yang menghubungkan Al-Qur’an dengan realitas sosial, sejarah, budaya, psikologi, dan pengalaman kehidupan manusia.
Dari perspektif itu, QS. al-Baqarah 204 dapat dibaca sebagai kritik terhadap kesalehan yang berhenti pada penampilan.
Kesalehan yang sejati harus mempunyai konsekuensi moral.
Jika seseorang banyak berbicara tentang Allah tetapi semakin kasar kepada manusia, ada sesuatu yang perlu diperiksa dalam batinnya.
Jika seseorang rajin berbicara tentang akhirat tetapi korup dalam mengelola amanah dunia, ada jarak antara agama yang diucapkan dan agama yang dihayati.
Jika seseorang mengutip banyak ayat tentang persaudaraan tetapi gemar merendahkan orang lain, maka agama telah berubah menjadi bahasa identitas, bukan energi pembentukan akhlak.
Dalam semangat tasawuf akhlaki yang kuat dalam pemikiran Hamka, perjalanan kepada Tuhan tidak boleh menjauhkan manusia dari kemanusiaan.
Semakin dekat seseorang kepada Allah, semestinya semakin lembut akhlaknya, semakin jujur perilakunya, dan semakin luas kepeduliannya.
Ahmad Syafii Maarif: dari simbol menuju substansi
Pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif juga memberi pintu penting untuk membaca ayat ini. Salah satu tekanan utama dalam pemikirannya adalah bahwa agama tidak boleh berhenti pada simbol, tetapi harus menjelma menjadi nilai kemanusiaan: keadilan, kejujuran, toleransi, kejernihan berpikir, dan sikap tidak rakus.
Di sinilah kita menemukan relevansi yang kuat dengan kritik Al-Qur’an terhadap manusia yang *“menarik hati dengan perkataannya”*, tetapi menyimpan sesuatu yang berbeda dalam dirinya.
Agama yang hanya menjadi simbol mudah dipertontonkan.
Integritas tidak.
Simbol dapat dipakai sebagai pakaian. Integritas harus menjadi kulit kehidupan.
Seseorang dapat memakai bahasa agama untuk memperoleh legitimasi sosial atau politik. Tetapi pertanyaan Al-Qur’an jauh lebih mendasar: *apakah agama telah mengubah dirinya menjadi manusia yang lebih jujur dan adil?*
Buya Syafii juga dikenal menempatkan agama sebagai kekuatan moral bagi kehidupan kebangsaan dan kemanusiaan, bukan sekadar instrumen perebutan kekuasaan.
Dengan demikian, keberagamaan yang autentik bukanlah keberagamaan yang paling ramai berbicara tentang dirinya sendiri, melainkan keberagamaan yang paling nyata menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.
M. Quraish Shihab: takwa sebagai ukuran, bukan retorika
Quraish Shihab memberikan kunci penting dalam membaca ayat ini: ukuran kebajikan adalah ketakwaan kepada Allah. Problemnya muncul ketika ucapan seseorang berbeda dengan isi hatinya, lalu kata-kata manis digunakan untuk menyembunyikan kepentingan duniawi.
Ini berarti Al-Qur’an mengajarkan *etika epistemik* sekaligus *etika sosial*.
Kita tidak boleh mudah terpesona oleh kata-kata.
Bukan berarti kita harus curiga kepada semua orang. Tetapi kita perlu belajar membedakan antara *retorika dan realitas, antara klaim dan bukti, antara citra dan karakter*.
Dalam kehidupan publik, seseorang seharusnya dinilai bukan hanya berdasarkan apa yang ia katakan, tetapi juga berdasarkan rekam jejaknya.
Dalam kehidupan beragama, seseorang tidak cukup dinilai dari seberapa sering ia berbicara tentang Tuhan, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan makhluk Tuhan.
Nurcholish Madjid: kejujuran kepada nurani
Nurcholish Madjid memberi penekanan penting pada hubungan antara takwa, kejujuran, dan hati nurani. Dalam salah satu tulisannya tentang puasa, ia menempatkan kejujuran bukan hanya sebagai keberanian berkata benar kepada orang lain, tetapi juga keberanian berkata benar kepada nurani sendiri.
Inilah inti persoalan QS. al-Baqarah 204.
Kejujuran tertinggi bukan sekadar tidak berbohong kepada manusia, tetapi tidak berdusta kepada diri sendiri.
Ada manusia yang berhasil meyakinkan orang lain bahwa dirinya baik, lalu perlahan-lahan berhasil meyakinkan dirinya sendiri bahwa kepalsuan itu adalah kebenaran.
Inilah bahaya terbesar.
Ketika seseorang terlalu lama memainkan peran, ia dapat lupa siapa dirinya.
Ia bukan lagi sekadar memakai topeng di hadapan manusia; ia mulai mengira topeng itu adalah wajahnya.
Karena itu, perjalanan spiritual sesungguhnya adalah perjalanan kembali kepada keaslian diri.
Bukan menjadi apa yang ingin dilihat manusia, melainkan menjadi manusia yang dapat berdiri jujur di hadapan Allah.
Muhammad Sabri AR.: dari pengetahuan menuju penyadaran diri
Dalam perspektif filsafat dan tasawuf yang dikembangkan Muhammad Sabri AR., pencarian kebenaran tidak cukup berhenti pada kemampuan rasional.
Kajian-kajiannya tentang filsafat Islam dan tradisi iluminasi menunjukkan perhatian pada hubungan antara rasio, pengalaman spiritual, dan pencarian terhadap realitas yang lebih dalam.
Jika perspektif ini dibawa untuk membaca QS. al-Baqarah 204, kita dapat melihat bahwa persoalan manusia bukan semata-mata *apa yang ia ketahui*, melainkan *apa yang terjadi pada dirinya setelah mengetahui*.
Orang dapat mengetahui kebenaran tetapi tidak hidup dalam kebenaran.
Orang dapat berbicara tentang Tuhan tetapi belum benar-benar mengalami kehadiran Tuhan dalam kesadarannya.
Orang dapat mengetahui teori tentang keikhlasan tetapi masih haus pengakuan.
Karena itu, perjalanan sufistik bukan sekadar memperbanyak pengetahuan tentang Tuhan, melainkan *menjernihkan diri agar tidak menjadi penghalang antara kebenaran dan tindakan*.
Dalam bahasa sederhana: ilmu harus turun dari kepala ke hati, lalu dari hati ke akhlak.
Kata, hati, dan amal
Dari ayat ini kita dapat merumuskan tiga lapisan integritas manusia:
*Qaul — kata*.
Apa yang keluar dari lisan.
*Qalb — hati*.
Apa yang sungguh-sungguh diyakini dan diniatkan.
‘Amal — tindakan.
Apa yang benar-benar dilakukan.
Manusia yang sehat secara spiritual adalah manusia bergerak menuju arah yang sama.
*Kata yang benar lahir dari hati yang benar dan melahirkan tindakan yang benar*.
Sebaliknya, ketika kata berbeda dari hati dan hati berbeda dari tindakan, lahirlah keterpecahan diri.
Inilah yang dalam kehidupan modern dapat disebut sebagai _split personality of morality_: seseorang mempunyai bahasa moral yang tinggi, tetapi praktik moral yang rendah.
Al-Qur’an tidak menghendaki manusia hidup terpecah antara wajah publik dan wajah privat.
Sebab, di hadapan Allah, tidak ada dua wajah.
Dari citra digital menuju hakikat diri
Zaman digital membuat persoalan ayat ini semakin relevan.
Kita hidup dalam kebudayaan citra. Orang dapat memilih bagian terbaik dari dirinya untuk ditampilkan kepada publik.
Kesedihan disembunyikan, kegagalan disunting, keberhasilan dipamerkan, bahkan kesalehan dapat dikemas menjadi konten.
Tidak semua itu buruk. Media sosial dapat menjadi sarana dakwah dan pendidikan.
Persoalannya muncul ketika *citra menggantikan karakter*.
Ketika seseorang lebih sibuk terlihat baik daripada sungguh-sungguh menjadi baik.
Ketika ibadah mulai dipikirkan dari sudut kamera.
Ketika amal dipertimbangkan berdasarkan jumlah _like_.
Ketika kebaikan menjadi konten, tetapi keikhlasan kehilangan tempat.
Di sinilah kita membutuhkan sebuah pertanyaan sufistik:
*Jika seluruh manusia berhenti melihat, apakah aku masih ingin melakukan kebaikan itu?*
Jika jawabannya ya, mungkin di sana ada keikhlasan.
Tetapi jika kebaikan berhenti ketika kamera berhenti merekam, kita perlu bertanya kembali kepada diri sendiri: *untuk siapa sebenarnya aku melakukan semua ini?*
Menemukan diri di hadapan Allah
Pada akhirnya, QS. al-Baqarah 204 bukan hanya berbicara tentang “orang lain”. Ia adalah cermin untuk diri kita sendiri.
Jangan terlalu cepat mencari siapa yang dimaksud oleh ayat.
Tanyakan:
- Apakah pernah kata-kataku lebih indah daripada amalanku?
- Apakah pernah aku menggunakan agama untuk membangun citra diri
- Apakah pernah aku meminta orang lain memahami niatku, sementara aku sendiri enggan memeriksa niatku?
- Apakah aku berani jujur kepada diriku sendiri ketika tidak ada seorang pun yang melihat?
Sebab perjalanan spiritual bukan perjalanan untuk membuat manusia lain terkesan kepada kita.
Ia adalah perjalanan untuk membuat kita semakin jujur kepada Allah.
Allah berfirman:
*يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ إِلَّا مَنْ أَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ*
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”
(QS. al-Syu‘arā’ [26]: 88–89)
Pada akhirnya, yang dibawa manusia kepada Tuhan bukanlah jumlah pengikut, gelar, jabatan, popularitas, atau keindahan retorika.
Yang dibawa adalah *qalb*.
Hati.
Karena itu, menjadi manusia beragama bukan sekadar belajar bagaimana berbicara tentang Tuhan. Lebih penting lagi adalah belajar bagaimana *jujur di hadapan Tuhan*.
Kita boleh kehilangan citra, tetapi jangan kehilangan hakikat.
Kita boleh tidak dikenal manusia, tetapi jangan asing di hadapan Allah.
Kita boleh tidak dipuji dunia, tetapi jangan sampai hati kita kehilangan keikhlasan.
Sebab manusia yang telah menemukan dirinya di hadapan Allah tidak lagi terlalu sibuk bertanya, *“Bagaimana orang melihat saya?”*
Ia mulai bertanya:
“Bagaimana Allah melihat saya?”
Dan mungkin di situlah perjalanan tasawuf yang paling sejati bermula: *dari kata menuju hati, dari hati menuju amal, dan dari amal menuju Allah.
Antara kata dan hakikat, manusia akhirnya harus memilih: menjadi apa yang tampak di hadapan manusia, atau menjadi apa yang benar-benar ia hadapi di hadapan Tuhan.
Sulawesi Tenggara—22 Oktober 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda
Follow Berita InsanNews di Google News


