Opinions

Hijrah al-Wujud: Transformasi Geografis, Sosio-Psikologis, dan Neurologis dalam Perjalanan Manusia Menuju Kesadaran Ilahiah

Kendari
Prof. Dr. H. Husain Insawan, M.Ag., Guru Besar Ekonomi Islam IAIN Kendari, bersama Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag., Rabu (17/06/2026). Foto Ist

Oleh: Prof. Dr. H. Husain Insawan, M.Ag.(Guru Besar Ekonomi Islam IAIN Kendari) 

Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.(Dosen Sejarah Peradaban dan Pemikiran Islam IAIN Kendari) 

INSAN.NEWS || Kendari—Setiap kali kata _hijrah_ disebut, ingatan kita segera tertuju pada perpindahan Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat dari Makkah ke Madinah. Peristiwa itu memang merupakan titik balik sejarah Islam yang monumental.

Namun, jika hijrah hanya dipahami sebagai perpindahan geografis, maka kita telah menyederhanakan sebuah konsep yang sangat kaya dan multidimensional.

Hijrah sesungguhnya adalah hukum perubahan (_sunnat al-taghyīr_) yang berlaku pada seluruh semesta. Tidak ada kehidupan tanpa hijrah.

1 Muharram: Jangan Ganti Kalender Kalau Mentalitas Masih Sama

Planet berhijrah mengelilingi orbitnya, air berhijrah dari laut ke awan lalu ke bumi, benih berhijrah menjadi pohon, dan manusia berhijrah dari ketidaktahuan menuju pengetahuan, dari kegelapan menuju cahaya, dari ego menuju Tuhan.

Dalam perspektif ini, hijrah bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan gerak ontologis kehidupan itu sendiri. Inilah yang dapat disebut sebagai *Hijrah al-Wujūd*, hijrah keberadaan.

Al-Qur’an mengabadikan makna hijrah sebagai perjalanan menuju Allah:

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ

Fa firrū ilallāh

Refleksi Tahun Baru Islam 1448 H

“Maka larilah menuju Allah.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 50)

Ayat ini menarik. Allah tidak memerintahkan manusia sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah orientasi. Yang menjadi tujuan bukan Madinah, bukan suatu wilayah geografis, melainkan Allah sendiri.

Di sinilah hijrah menemukan makna terdalamnya: perpindahan eksistensial dari keterikatan kepada dunia menuju kesadaran Ilahiah.

Hijrah Geografis: Perjalanan Tubuh dan Peradaban

Dalam rumpun ilmu alam, hijrah dapat dipahami sebagai perpindahan ruang. Nabi Muhammad ﷺ meninggalkan Makkah bukan karena kebencian terhadap tanah kelahirannya, tetapi karena tuntutan misi dan masa depan peradaban.

Tahun Baru 1448 Hijriah: Semangat Baru Menata Peradaban

Hijrah fisik membuka ruang bagi lahirnya masyarakat baru yang lebih adil, inklusif, dan berorientasi pada nilai-nilai ketuhanan.

Secara filosofis, perpindahan fisik sering menjadi syarat lahirnya perspektif baru. Seseorang yang terus berada dalam lingkungan yang sama cenderung terjebak dalam pola pikir yang sama.

Karena itu, sejarah menunjukkan bahwa banyak peradaban besar lahir dari mobilitas manusia, pertukaran budaya, dan keberanian meninggalkan zona nyaman.

Hijrah geografis mengajarkan bahwa perubahan sering kali menuntut keberanian untuk melangkah keluar dari ruang yang membatasi potensi diri.

Hijrah Sosio-Psikologis: Perjalanan Jiwa dan Masyarakat

Namun perpindahan tubuh tidak selalu diikuti perpindahan jiwa. Banyak orang berpindah tempat, tetapi tetap membawa kebencian, kesombongan, dan prasangka yang sama. Karena itu, hijrah yang lebih sulit adalah hijrah sosial dan psikologis.

Nabi ﷺ bersabda:

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Wal-muhājiru man hajara mā nahallāhu ‘anhu

“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menggeser makna hijrah dari ruang fisik ke ruang moral. Hijrah bukan lagi sekadar berpindah dari Makkah ke Madinah, tetapi berpindah dari sifat buruk menuju akhlak mulia, dari egoisme menuju empati, dari kebencian menuju kasih sayang.

Dalam ilmu sosial, perubahan masyarakat selalu dimulai dari perubahan kesadaran individu. Tidak ada reformasi sosial tanpa transformasi psikologis.

Karena itu, hijrah adalah proses pembebasan diri dari belenggu mental yang menghalangi pertumbuhan spiritual dan kemanusiaan.

Hijrah Neurologis: Perjalanan Otak dan Kesadaran

Temuan neurosains modern memberikan perspektif baru yang menarik. Otak manusia memiliki kemampuan _neuroplasticity_, yaitu kemampuan membentuk dan mengubah jaringan saraf berdasarkan pengalaman dan kebiasaan.

Artinya, setiap kebiasaan baik yang dilakukan secara berulang bukan hanya mengubah perilaku, tetapi juga mengubah struktur otak.

Ketika seseorang membiasakan shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, bersabar, atau mengendalikan amarah, sesungguhnya sedang terjadi proses hijrah neurologis.

Dalam bahasa Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Innallāha lā yughayyiru mā biqaumin hattā yughayyirū mā bi’anfusihim

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini bukan hanya memiliki makna spiritual dan sosial, tetapi juga relevan secara neurologis.

Perubahan diri memerlukan perubahan pola pikir, kebiasaan, dan jaringan kesadaran yang tertanam dalam otak.

Dengan kata lain, hijrah bukan hanya peristiwa keagamaan, tetapi juga proses rekonstruksi neurologis yang memungkinkan manusia menjadi pribadi baru.

Menuju Kesadaran Ilahiah

Meskipun hijrah memiliki dimensi geografis, sosial, dan neurologis, seluruh perjalanan itu pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: kesadaran Ilahiah (_God-consciousness_).

Para sufi menyebutnya sebagai perjalanan dari _nafs_ menuju _qalb_ , dari _qalb_ menuju _ruh_ , dan dari _ruh_ menuju Allah . Dalam perspektif tasawuf, hijrah adalah proses melepaskan identitas-identitas semu yang melekat pada diri hingga manusia menemukan jati dirinya sebagai hamba.

Jalaluddin Rumi pernah menulis:

“Jangan puas dengan cerita orang lain tentang Tuhan. Bukalah kisahmu sendiri bersama-Nya.”

Kalimat ini sejatinya adalah ajakan untuk berhijrah. Bukan sekadar berpindah lokasi, melainkan berpindah kesadaran. Sebab tujuan akhir hijrah bukanlah perubahan alamat, melainkan perubahan kualitas keberadaan.

Penutup

Di era modern yang ditandai mobilitas tinggi, revolusi digital, dan kecerdasan buatan, makna hijrah perlu dibaca ulang secara lebih luas. Hijrah bukan hanya peristiwa sejarah yang diperingati setiap tahun, tetapi proses transformasi yang berlangsung setiap hari dalam kehidupan manusia.

Kita berhijrah ketika meninggalkan pola pikir yang sempit menuju keluasan wawasan. Kita berhijrah ketika melepaskan kebiasaan buruk dan membangun kebiasaan yang lebih sehat. Kita berhijrah ketika mengubah struktur kesadaran dari orientasi duniawi menuju orientasi Ilahi.

Pada akhirnya, *Hijrah al-Wujūd* adalah perjalanan dari “menjadi” menuju “menyadari”; dari sekadar hidup menuju memahami makna hidup; dari mengenal dunia menuju mengenal Tuhan.

Sebab hijrah yang paling jauh bukanlah perjalanan ribuan kilometer, melainkan perjalanan beberapa sentimeter dari kepala menuju hati, lalu dari hati menuju hadirat Allah SWT.

Kendari—17 Juni 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement